18 January 2008

Aku pengen banget jadi penyiar. Apa modal awal yang harus aku siapin?

Di setiap kota besar dan menengah di Indonesia, ada puluhan ribu pelajar seperti Agil yang ingin menjadi penyiar. Walaupun Agil sendiri tidak menyebutkan kota dan minat Broadcastingnya (radio? televisi?) namun Dokter akan tetap membekali Agil dan teman-teman seperjuangan dengan kiat & pengetahuan yang penting utk diketahui.

Di tahun 80an, banyak radio kawula muda yang sengaja mempekerjakan para pelajar SMA sebagai penyiar. Para penyiar muda ini malah dianjurkan untuk tetap memakai seragam putih-abu2nya, agar para pendengar yang kebetulan datang ke studio bisa melihat sendiri bahwa “radio ini gue banget!”

Di zaman sekarang, remaja punya banyak cara untuk memamerkan siapa dirinya: warna rambutnya Sunset Red, merek tas sekolahnya Oakley, handphone-nya Sony Walkman Phone, nongkrongnya di PIM-2, dst. Tetapi di tahun 80an identitas remaja yang bisa dia tunjukkan pada dunia hanyalah musik yang dia ketahui dan radio yang dia dengarkan. Dia mutlak tahu lirik lagu terbaru dari Duran Duran, dan biasanya hafal nama semua penyiar di radio2 terkondang. Hiburan selain radio dan bioskop? Gajah Mada Plaza, Ratu Plaza, dan TVRI Programa 2. Anda terbayang sebuah era tanpa Handphone, Computer, SMS, Friendster, E-mail, apalagi Internet?

Karena itu pula di zaman itu para pelajar malu jika tertangkap basah mendengarkan radio kakaknya atau radio bapaknya. Semua pelajar saat itu mengaku pendengar Prambors, dan sampai tahun 90an pun masih banyak yang mengaku sama meskipun dia juga mendengarkan Hard Rock FM atau Indika FM. Sedangkan seorang pelajar SMA yang juga bekerja di sebuah stasiun radio (seperti Fla TOFU di awal karirnya) adalah keistimewaan sekali.

Ini semua Dokter sampaikan agar Anda memahami fungsi dan esensi dari Broadcasting:
1. Penyiar selalu (tanpa lelah, tanpa henti) berupaya menyengkan Audience-nya.
2. Radio (dan TV) mengudara atas dasar keinginan/pemikiran Audience-nya.

Dokter juga menceritakan ini untuk menggambarkan bahwa untuk menjadi Penyiar di era sekarang ini lebih sulit karena Anda harus punya lebih dari sekedar golden voice; Anda harus punya jiwa entertainer, harus mampu berekspresi secara flexible, harus terdepan mengikuti segala trend lifestyle & information, dan harus siap (tanpa cengeng, tanpa mengeluh) untuk tampil di depan pendengar/penonton manapun untuk memenuhi keinginan Audience dan klien yang membayar Anda.

Dari sini sebenarnya Anda bisa menarik kesimpulan tentang “Modal apa yang harus disiapin untuk jadi Penyiar?”

Pertama, kita harus disiplinkan diri agar bisa selalu berusaha menghibur Audience : jangan berfikir untuk jadi Penyiar jika Anda sulit menepati janji dengan orang atau sering berganti mood setiap hari. Kalau Anda mengalami kesulitan untuk mengendalikan ekspresi diri karena mood Anda mudah berubah-ubah bagaikan cuaca, lebih baik Anda kerja di balik komputer ketimbang di studio siaran.

Kedua, kita harus in-touch dengan apa yang sedang menjadi pusat perhatian Audience kita; dengan kata lain, kita harus “gaul” seperti mereka. Kalau ingin bekerja di radio otomotif, misalnya, biasakanlah diri dengan hobby mobil dan motor. Jika ingin menjadi pembaca berita di Metro-TV, biasakanlah mengkonsumsi berita setiap hari.

Ketiga, kita harus terbiasa disuruh-suruh sesuai tuntutan klien atau program. Dalam prakteknya tuntutan ketiga ini sangat bervariasi, misalnya Anda :
• Diberi jam siaran Minggu pagi, padahal Anda paling susah bangun pagi
• Harus mewawancarai seseorang yang Anda sangat tidak suka
• Dituntut memakai celana pendek saat jadi TV-host, padahal lutut Anda jelek
• Diminta diet drastis karena setelah melahirkan koq terlihat gemuk di kamera
• Dan berbagai contoh yang terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu.

Dengan kata lain, kalau Anda merupakan tipe orang yang cenderung membantah perintah atau setiap hari masih dibangunkan oleh Mama, maka sebaiknya Anda kerja di bank saja… atau bikin perusahaan sendiri. Apalagi tugas sebagai Penyiar menuntut Anda bisa memenuhi keinginan Audience, no matter what the conditions and no matter who the Audience is.

Itulah tiga prasyarat yang menurut Dokter Penyiar harus dipenuhi sebelum Agil dan siapa saja ingin mencoba menjadi seorang Penyiar (TV maupun Radio). Semuanya berasal dari diri sendiri, dan mengingatkan kita bahwa sebelum Stasiun TV/Radio atau Production House merekrut dan menseleksi Anda untuk sebuah programnya, pastikanlah bahwa Anda sendiri sudah punya sikap mental yang benar dan tangguh.

Mumpung Agil ini masih muda, Dokter mengusulkan untuk sekolah dulu untuk mendapatkan ilmu dan nilai yang baik, karena nanti kalau sudah kuliah bakal ada banyak kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa. Lagipula kalau nilai SMA-nya bagus khan lebih mudah masuk ke Universitas pilihannya. Oh iya, perluaslah pergaulan sejak SMA sekaligus untuk melatih kemampuan berinteraksi, misalnya bicara dengan guru secara sopan & ramah, ngobrol dengan teman secara gaul dan santai, dsb. Pengalaman dan keterampilan berinteraksi sejak SMA akan memudahkan Agil mengembangkan kemampuannya sebagai Penyiar kelak.

Sebagaimana dijabarkan dalam pelatihan “Workshop@Penyiar.com”, keterampilan di ruang siaran (membaca Teleprompter, penguasaan perangkat siaran) bisa dipelajari di tempat Anda siaran kelak. Namun Dokter Penyiar mengingatkan bahwa pembekalan mental juara itulah yang akan membuat Anda siap untuk jadi seorang Broadcaster; bagaimanapun Audience-nya, bagaimanapun Program-nya, bagaimanapun Klien-nya, dan bagaimanapun Boss-nya dalam karir Anda kelak.


No comments: