22 January 2009

Pasien di Samping Jendela, Sebuah Renungan

Suatu hari, ada dua orang yang punya penyakit serius dan dirawat di sebuah rumah sakit. Salah satu pasien ini diperbolehkan duduk di tempat tidurnya setiap sore untuk membantu mengalirkan cairan dari paru-parunya. Kamar pasien yang satu ini ada di deket jendela.

Pasien satunya lagi, menghabiskan setiap waktunya di tempat tidur tanpa bisa duduk atau bangun dari tempat tidur. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah sekat. Setiap hari, kedua pasien ini sering ngobrol sampai berjam-jam lamanya. Isi perbincangan mereka tentang keluarga, rumah, kerjaan, sampai tempat-tempat liburan.

Setiap sorenya, ketika pasien yang di samping jendela ini duduk, dia menggambarkan semua hal yang bisa dia lihat di luar jendela itu. Pasien yang satunya lagi mulai bisa merasakan hidup di luar rumah sakit untuk jangka waktu 1 jam itu, karena dia bisa merasakan kehidupan yang penuh warna di luar sana.

Pasien di dekat jendela itu menceritakan kalo di luar ada taman yang indah sekali. Angsa dan bebek saling bermain di air sementra anak-anak kecil bermain dengan kapal-kapalan mereka di tepi danau. Sepasang muda-mudi saling berpegangan tangan sambil melihat bunga yang berwarna warni dan di kejauhan bisa terlihat gedung-gedung bertingkat.

Selagi pasien yang disamping jendela menggambarkan apa yang bisa dia lihat, pasien satunya lagi menutup matanya dan membayangkan semuanya dengan indah.

Suatu sore, pasien yang di samping jendela memberi tahu bahwa di kejauhan ada parade karnaval. Walaupun pasien yang satunya lagi tidak dapat mendengar dengan jelas, dia bisa membayangkan semuanya di dalam pikirannya, selagi pasien yang di dekat jendela menggambarkan semuanya secara detail.
Dari demi hari berlalu…

Suatu pagi, ketika suster datang untuk mengantarkan air mandi untuk mereka, dia menemukan pasien yang di dekat jendela nadinya sudah tidak berdetak lagi. Pasien itu meninggal dunia dengan tenang. Suster memanggil petugas untuk memindahkan mayatnya.

Pasien yang satunya lagi sangat bersedih. Namun ditengah kesedihannya, dia bertanya kepada suster, apakah ia bisa pindah tempat ke samping jendela. Susternya bilang bisa saja.Pelan-pelan, suster membantu dia untuk berdiri. Dia melihat jendela di samping pelan-pelan dan sangat kaget. Jendelanya langsung menghadap ke tembok gedung sebelah...!

Akhirnya pasien ini bertanya kepada suster, kenapa teman sekamarnya bisa menggambarkan hal-hal indah yang terjadi di luar jendela itu? Suster menjawab, kalo pasien tersebut buta dan tidak dapat melihat apapun, bahkan dinding itu. “Mungkin dia cuma ingin menghibur bapak saja”...

Memang, semua situasi dapat membuat seseorang bahagia, tergantung bagaimana kita menghadapinya. Berbagilah kebahagiaan, maka rasanya akan berlipat ganda.

3 comments:

chae44 said...

uh,,, artikel yang sangat menyentuh hati dan sanubari...
emang bener banget tuh artikel..
ga semestinya kita mengeluh dengan apa yang kita alami..
karene gimana pun hidup kita...
pasti itu jadi yang terbaik buat kita..
makanya pinter-penter deh menyikapi hidup biar kita ga banyak ngeluh..
makasih juga buat artikel ini, katena dengan ini gw juga dapet pelajatan yang simpel tapi bermakna banget..
salam keren deh..

umee said...

terkadang berbohong untuk menyenangkan orang lain adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari nadi kehidupan kita,,
melihat orang lain tersenyum bahagia, tertawa penuh suka, destinasi yang ingin kita capai,,
dan taukah anda, kebohongan untuk membahagiakan orang lain merupakan bentuk CINTA yang tak terungkap yang tulus dari hati..

Anonymous said...

Artikel yang sangat mengharukan...
Mengingatkan tentang pentingnya mensyukuri nikmat apapun yang ada dalam diri kita dan berusaha memberikan kebahagiaan kepada orang lain dengan apa yang kita miliki..